ada cerpen seru karya si Sobat Misterius. Selamat membaca !
SAUDARA DARI TANAH RIMBA
Oleh : Riarfhiatma
Aku menyeruput cappucinno
yang masih tersisa yang aku pesan tadi. Aku melirik arlojiku. Pukul 09.30 WIB. Aku
melihat ke sekeliling sisi café ini.
Mataku tertuju pada dua remaja laki-laki yang tengah mengobrol asyik. Tawa
mereka begitu renyah. Aku memandang ke arah luar café. Bayanganku jatuh pada kejadian dua belas tahun silam.
Mobil kami melesat cepat menusuri jalan menuju
Merangin. Sudah lima jam aku merasakan perjalanan membosankan ini. Karena
sebenarnya, aku juga tidak tahu ayah mau membawaku kemana. “Ayah, sebenarnya
untuk apa kita ke sana? Kita kan tidak punya kerabat di sana?” Tanyaku.
Ayah hanya tersenyum mendengar
pertanyaanku dan tidak menjawabnya sama sekali. Ayah bekerja sebagai
wirausahawan. Di samping itu, ternyata ayah mengikutsertakan diri menjadi
aktivis di sebuah lembaga peduli hutan dan suku anak dalam provinsi Jambi. Aku
tidak mengerti, apa hal yang mendorong ayah untuk bergabung di dalamnya. Dua
atau tiga bulan sekali, ayah meluangkan waktunya beberapa hari untuk mengabdi
menjadi guru bagi suku anak dalam.
Ayah membangunkanku yang tertidur
pulas dengan tubuh berselonjor di jok kedua. “Zaki, bangun nak. Ada yang mau
duduk di sini juga. Ayo.”
Kulihat ada seorang anak lelaki yang
terlihat sebaya denganku berdiri di samping ayah. Dia tidak memakai baju dan
celana layaknya anak-anak biasa. Tubuhnya dekil. Ada perasaan jijik saaat
bertemu dengannya.
Aku menggeser dudukku sebisa mungkin
jauh darinya. Kuletakkan tasku di antara kami. “Zaki, tidak sopan seperti itu.
Ayo kenalan dengan dia,” saran ayah.
“Akeh
Beteguh. Mika?” tanyanya dengan bahasa yang sama sekali tidak ku mengerti. “Beteguh, mika turut apo sekato bahaso
Indonesia, au?” Ayah menasihatinya. Aku tidak mengerti apa yang mereka
bicarakan. Ayah bilang, itu bahasa suku anak dalam.
“Nama, saya, Beteguh. Kamu?” Kali
ini dia berbicara bahasa Indonesia, walaupun masih terbata-bata. “Zaki,” ujarku
singkat dengan nada suara yang ketus. “Dia sebenarnya siapa, yah? Kenapa dia
ikut dengan kita?” tanyaku. “Zaki, Beteguh baru saja kehilangan orangtuanya.
Jadi ayah, berencana mengangkatnya menjadi saudara kam. Kamu kan jadi tidak
sendirian lagi.” jelas ayah.
Aku tidak banyak berkomentar setelah
mendengar pernyataan itu. Ayah bilang, dia adalah salah satu anak didik ayah di
sekolah rimba. Beteguh termasuk anak yang yang cepat menguasai pengajaran yang
diberikan. Ibunya sudah meninggal sejak Beteguh kecil, dan ayahnya juga
menghilang setelah berpamitan untuk pergi berburu. Terdengar kabar dari kepala
suku yang menduga bahwa ayahnya di makan harimau saat berburu. Mendengar berita
itu, ayah berizin kepada kepala suku untuk merawat Beteguh yang kala itu
sebatang kara dan membawanya ke kota untuk di sekolahkan. Kepercayaan yang di
peroleh organisasi yang diikuti ayahku dari suku anak dalam, benar-benar suatu
kehormatan besar. Karena mereka bukanlah orang yang mampu untuk didekati.
Hari demi hari, tahun berganti tahun,
aku benar-benar merasakan yang namanya mempunyai saudara. Walaupun bukan
saudara sedarah, tapi tetap terasa perbedaannya dengan saat aku masih menjadi
anak tunggal. Awalnya, aku dan Beteguh tidak terlalu akur disebabkan
keegoisanku. Aku tidak pernah mau bermain dengannya, dirumah maupun di sekolah.
Makan pun aku mencoba menghindar untuk satu meja dengannya. Pernah suatu hari,
aku bermasalah dengannya di meja makan.
Saat itu, ayah dan ibu sedang ke
luar kota. Hanya ada aku, Beteguh, dan pembantu kami di rumah. Siang itu, aku
berencana makan sendiri. Tiba-tiba Beteguh datang untuk makan bersama dan duduk
di hadapanku. Selera makanku hilang. Aku tidak jadi mengambil ayam yang ada di
hadapanku. “Kalu mikai golih makon hayom,
miaki bisa makon ikan.” Ujarnya sambil menunjuk ke piring yang menyajikan
ikan. Karena seringnya dia berbahasa kubu, aku sedikit mengerti dengan apa yang
disampaikannya. Aku menggelengkan kepalaku dengan memasang muka masam. “Kalu mikai golih makon hayom, akeh juga
hopi makon hayom,” kata Beteguh kepadaku yang menandakan Beteguh mengikuti
selera makanku. Aku tertegun mendengar ucapannya barusan. Betapa egoisnya
diriku, pikirku. Sejak saat itu, aku mau berteman dengannya. Hari-hari
berikutnya, aku mulai mau pulang dan pergi sekolah bersamanya.
Tidak terasa sudah lima tahun kami
bersama. Aku telah melewati masa-masa SD dan SMP bersama Beteguh. Hingga kami
masuk di SMA yang masih sama pula. Ya. masa SMA adalah masa paling indah dari
semua masa yang telah kulalui di jenjang pendidikan. Masa dimana aku mulai
merasakan tanda-tanda pubertas.
Aku dan Beteguh, tidak duduk di
kelas yang sama. Tapi kedekatan kami masih terpampang jelas di mata teman-teman
di sekolah. Teman-teman hanya tahu bahwa kami ini adalah saudara angkat. Tidak
ada yang tahu perihal asal-usul Beteguh. Aku juga tidak terlalu
mempermasalahkan hal itu. Menurutku itu sama sekali tidak penting.
Hingga suatu hari
,
saat pulang sekolah, aku menyampaikan sesuatu pada Beteguh. “Beteguh, kau tahu
Ratna, kan?” Tanyaku seraya melihat-lihat ke belakang,memastikan tidak ada yang
mendengar kami. “Ya, aku tahu,” ujar Beteguh dengan bahasa Indonesianya yang
sudah lancar, walaupun masih sedikit menggunakan logat bahasa kubu. Aku
melihat-lihat ke kanan dan ke kiri lagi, “aku ingin kau mengenalkanku padanya.
Sudah beberapa bulan ini aku memperhatikannya. Tapi aku malu menyampaikannya
padamu. Kau mau, kan?” Pintaku.
Beteguh diam, seperti memikirkan
sesuatu. “Bagaimana? Tolonglah,” desakku yang membuatnya mengerutkan dahinya.
Beteguh menatap ke arahku dan mengangguk mantap seraya berkata, “ ya.”
Usai mendapatkan kepastian dari
Beteguh tadi, kami langsung berjalan menuju parkiran kendaraan. Aku dan Beteguh
pulang dengan sepeda motor kami masing-masing.
Esoknya, saat pulang sekolah Beteguh
mengajak beberapa temannya, termasuk Ratna untuk menyelesaikan tugas kelompok
di rumah. Aku juga ikut pulang bersama rombongan mereka. Ratna sempat menatapku
saat di parkiran lalu berpaling dan langsung duduk di jok motor di belakang
Beteguh.
Saat sampai di rumah, aku juga ikut
duduk bersama mereka di ruang tamu. Beteguh langsung ke dapur menyiapkan minum
untuk tamunya. Karena beberapa dari mereka merupakan teman sepermainanku, aku
tidak merasa canggung ikut bersenda gurau dengan mereka. Saat aku bebicara
kepada yang lain, sesekali aku melirik ke arah Ratna yang sedari tadi tidak
mengeluarkan suaranya. Sampai saat Ratna membuka pembicaraan di antara kami. “Di
sini nyaman ya.” Ujarnya dengan nada suara yang lembut. “Ah, iya. Di sini
memang nyaman. Kalau mau main lain kali, ya datang aja.” Ucapku yang langsung
sumringah mendengar pernyataannya tadi. “Oh, ya. Nama kamu Zaki, kan?” Ratna
memalingkan wajahnya ke arahku. Degg. Aku
tersipu malu mendengar pertanyaannya tadi. Wajahku langsung memerah. “Oh, iya.
Aku Zaki. Kau Ratna, yang sering dibicarakan Beteguh itu, kan?” tanyaku
asal-asalan. Kali ini wajah Ratna yang memerah. Dia tertunduk dan tersenyum
simpul.
Pertemananku dengan Ratna mulai
dekat. Di sekolah aku dan Ratna juga sering saling menyapa. Terkadang jika kami
bertemu di kantin, kami biasanya duduk dengan satu meja yang sama. Kadang
kalanya, Beteguh dan teman-teman yang lain juga ikut bergabung.
Pagi menjelang siang itu, saat jam
istirahat, aku duduk sendirian di kantin. Tiba-tiba Ratna datang dan langsung
mengambil posisi yang sangat dekat denganku. “Aku mau bilang sesuatu, boleh?”
tanyanya dengan volume suara yang pelan sekali. Aku terkesiap, “Ya. Mau bilang
apa? Bilang aja,” ujarku kaku. “Tapi, lebih baik pulang sekolah aja, di tempat
parkir. Oke?” Ratna langsung pergi meninggalkanku sembari melambaikan
tangannya.
Saat pulang sekolah, aku menunggu
Ratna di tempat parkir. Beteguh sempat mengajakku untuk pulang bersama, tapi
aku menolak dengan alasan akan pergi mengerjakan tugas kelompok. Beteguh tidak
merasa curiga dan langsung menancap gas pulang ke rumah.
Hampir sepuluh menit aku berdiri di
samping motorku saat Ratna datang menghampiriku. “Maaf ya, Zak. Aku sengaja
menunggu sepi dulu.” Ujarnya dengan napas yang tersenggal-senggal. “Iya. Tak apa.
Kamu mau bilang apa?” Tanyaku dengan perasaan tidak karuan. “Sebenarnya aku
sudah lama memeperhatikan Beteguh,” lirihnya. Aku seperti tersambar petir
mendengar pernyataan itu. Tapi sebisa mungkin aku menutupi keabnormalan hatiku
yang terpancar di wajahku. “Aku sebenarnya juga sudah tertarik dengannya sejak
awal semester dua. Tapi aku merasa ini bukan hanya perasaanku saja. Aku yakin
dia juga menyukaiku,” Ratna melanjutkan kata-katanya dengan sesekali
menyunggingkan senyuman.
“Jadi menurut kamu, kalian saling
suka?” Tanyaku lirih. Ratna hanya menganggukkan kepalanya. Hampir setengah jam
kami membahas tentang hal itu. Ratna memintaku untuk mencari tahu apa benar
Beteguh juga menyukainya. Setelah perbincangan itu selesai, sesegara mungkin
kupacu sepeda motorku pulang ke rumah. Perasaan kebencian bergemuruh di hatiku.
Sesampai di rumah aku langsung kepada tujuan utamaku. Beteguh.
Kulihat Beteguh sedang menyiram
tanaman di halaman belakang. Langsung kuhampiri dirinya, “Hei!” Kepalan tangan
ini mendarat di wajahnya. Beteguh jatuh seketika. Dia mencoba bangkit tetapi
aku langsung mendorong tubuhnya lagi hingga tersungkur. “Kupikir kita saudara!”
Pekikku.
“Ada apa? Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba seperti
ini?” Beteguh kebingungan dengan tangan yang masih memegangi pipi kanannya.
“Kau menyukai Ratna, kan?” Bentakku. “ Zaki, apa
yang kau bicarakan? Kau yang menyukai Ratna, apa yang membuatmu menanyakan
itu?” Tanya Beteguh.
“Ya. Ratna menyukaimu. Bukan aku. Dan Ratna bilang,
kau menyukainya juga kan?!” Aku mulai menunjuk-nunjuk ke arahnya.
Beteguh diam. Matanya memandang ke
sisi lain, “ya, aku juga menyukainya. Tapi kau juga menyukainya, dan aku tidak
ingin merusak hubungan persaudaraan kita.” Beteguh memalingkan tatapannya ke
mataku. “Tapi sama saja kau telah membohongiku. Kau memang pembohong!” Pekikku
dengan jari telunjuk yang masih lihai mengarah ke wajahnya. Beteguh
membelalakkan matanya.
“Jadi kau ingin apa?! Kau ingin aku juga membalas
hal yang sama pada Ratna?! Kalau begitu maumu, aku akan belajar untuk membalas
perasaanku terhadap Ratna.” Tegasnya seraya mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Kau pikir Ratna akan menyukaimu
lagi setelah tahu bahwa kau adalah anak kubu yang dipungut ayahku?!” Pekikku
dengan nada menyindir. “Jangan bawa-bawa masa lalu, kawan. Mulai sekarang kau
boleh menganggapku tidak ada. Begitupun aku. Mungkin begitu lebih baik.”
Tuturnya lirih seraya menghilang dari pandanganku.
Setelah kejadian itu, aku dan
Beteguh tak pernah lagi bertegur sapa. Di rumah, di sekolah, di mana pun kami
berada, kami seakan saling tidak menganggap keberadaan satu sama lain.
Ternyata ayah dan ibu memperhatikan
kerenggangan antara kami. Malam hari, saat aku sedang bermain game komputer di
kamar, ayah masuk dan menghampiriku. Aku langsung menghentikan permainanku.
Ayah berdiri menghadap ke luar jendela. “Apa yang terjadi antara kamu dan
Beteguh, Zak?” Tanya ayah yang masih setia dengan posisinya. Aku terkejut mendengar
pertanyaan ayah barusan.
“Ayah tahu dari mana?” Aku bertanya dengan nada
suara gemetar. “Ayah dan anak punya kontak batin, Zaki,” tuturnya sembari
membalikkan badannya dan menatapku.
Itulah tatapan ayah. Tatapan yang
tak mampu kubalas dengan kebohongan. Begitu teduh dan bijaksana. Aku menghela
nafas panjang dan mulai menceritakan peristiwa yang terjadi dua minggu lalu.
Tak ada yang aku tutup-tutupi kepada ayah. Ayah dengan seksama mendengarkan
ceritaku.
“Jadi masalah cinta?” Tanya ayah.
Aku mengangguk pelan. “Minta maaflah pada Beteguh,” ujar ayah.
“Tapi yah…”
“Dia saudaramu Zak. Walaupun dia
bukan darah daging ayah, tapi ayah yang memutuskannya untuk menjadi bagian dari
keluarga ini. Kalian sudah enam tahun bersama dan apa kau mau berpisah hanya
karena seorang gadis yang belum jelas akan menjadi masa depan kalian atau tidak?”
Ayah mengakhiri pembicaraan dan keluar dari kamar.
Aku tidak mematikan komputer dan
langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Mataku tertuju pada langit-langit
kamar. Aku memikirkan ulang apa yang dikatakan ayah barusan.
Esoknya saat di meja makan, saat kami
larut dalam kesenggangan di meja makan, ibu membuka pembicaraan. “Setelah lulus
nanti, kamu mau melanjut ke mana Zak?” Tanya ibu seraya mengolesi rotinya
dengan selai kacang. “Hmm, belum tahu bu, tapi yang pastinya Zaki harus
kuliah,” ujarku.
“Kamu tidak mau mencoba beasiswa ke luar negeri
seperti Beteguh? Beteguh rencananya mau ke Jerman katanya.” Ibu memalingkan
wajahnya ke arah Beteguh yang sibuk dengan roti isinya. Beteguh mengangguk
ragu. “Zaki masih cinta Indonesia bu.” Kataku ketus yang langsung beranjak
meninggalkan meja makan dan tidak menghabiskan rotiku.
Aku mengeluarkan motorku dari
garasi. Langsung kutancap gasku menuju sekolah. Lima belas menit kemudian aku
telah berdiri di parkiran sekolah. Aku berjalan menuju kelas saat tangan
seseorang menahan ranselku dari belakang. “Ratna?” Aku seolah menghindarinya
dan mencoba melanjutkan jalanku. “Zaki, dengarkan aku!” bentakknya yang membuat
langkahku terhenti. Ratna berjalan cepat dan berdiri tepat di hadapanku.
“Zaki, aku ingin kau jujur padaku.” Katanya mantap.
“Kau menyukaiku?” Tanyanya nafas tersenggal-senggal. Aku terkejut, tak
menyangka dia bernyali menanyakan itu padaku.
“Aku tanya, apa benar kau menyukaiku?!” Kali ini
suaranya meninggi dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tidak sanggup menatapnya.
“Kenapa kau tidak menjawabku? Kau pikir aku sedang berbicara dengan siapa?
Hah?!” Air matanya mengalir deras.
“Ya, aku menyukaimu. Aku menyukaimu saat sebelum kau
menyukai Beteguh.” Ujarku lirih. “Apa aku penyebab rusaknya persaudaraan kalian?”
Suaranya memelan.
“Aku penyebabnya.” Kata seseorang di
belakangku. Aku dan Ratna sontak menoleh ke arah datangnya suara. Beteguh. Aku
tidak tahu sudah berapa lama dia ada di sana. “Aku yang tidak mau jujur sejak
awal. Aku yang selalu menutup diri dan membiarkan kau dan Zaki jatuh dalam
perasaan yang saling mengejar. Kalau saja aku mengatakan sejak awal bahwa aku
menyukaimu, kepadamu dan Zaki, mungkin tidak akan serumit ini. Maaf,” ujarnya
yang lalu pergi meninggalkan kami. Aku menatap wajah Ratna yang tertunduk
dengan isak tangis yang tak terbendung lagi. Aku menyatakan permohonan maafku
padanya yang sama sekali tak dihiraukan lalu beranjak meninggalkannya.
“Ini
kedua kalinya, dia mengalah untuk hal yang besar. Betapa egoisnya aku. Aku
bahkan belum pernah berkorban untuknya selama kami bersama.” Batinku.
Sudah satu setengah tahun sejak
kejadian di parkiran itu, hubunganku dengannya semakin renggang. Sebenarnya
Beteguh menganggap santai, tapi aku tak bisa menyembunyikan rasa maluku
padanya. Aku selalu berlaku segan saat bersamanya. Hingga sampai suatu hari
Beteguh mendapat kabar gembira dari pihak sekolah. Beteguh lulus untuk tes
wawancara yang dilangsungkan dua pekan lalu. Itu berarti dia berhak menerima
beasiswanya ke Jerman. Impianya sejak lama.
Ayah dan ibu mendengar kabar itu,
begitu bahagia. Termasuk aku. Tapi aku tetap tak menampakkan reaksi apapun
padanya. Malamnya usai pulang dari acara perpisahan sekolah, Beteguh masuk ke
kamarku yang tidak terkunci. Aku langsung meng-off-kan komputerku. Dengan santainya, Beteguh menghempaskan
bokongnya di kasurku. “Sudah lama ya, aku tidak bermain di kamar ini,” ujarnya
seraya melihat ke langit-langit kamar. “Sebentar lagi, aku bahkan harus
terbiasa dengan rumah baru untuk beberapa tahun kedepan. Aku juga harus
berpisah sementara dengan saudaraku.” Beteguh masih menatap langit-langit
kamar.
“Kau ini kenapa?” Tanyaku dengan suara pelan. “Aku?
Kenapa? Aku juga tidak tau apa yang terjadi padaku. Aku baru saja terkena
musibah. Aku kehilangan gadis yang aku cintai. Tapi itu tak berarti apapun
karena yang lebih parahnya, aku kehilangan kepercayaan saudaraku sendiri.”
Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Aku yang tidak berani membalas tatapannya
langsung mengalihkan pandangan menuju jendela kamar yang masih terbuka.
Beteguh berjalan menuju kaca jendela
dan berdiri membelakangiku. Dia menarik nafas dalam-dalam dengan mata tertutup
lalu menghembuskannya perlahan. “Beteguh,” aku memberanikan diri melihat ke
arahnya. “Ya,” Dia sama sekali tidak menoleh.
“Kalau saudaramu itu menyesal dengan kesalahannya,
apa kau mau menerima permohonan maafnya?” Tanyaku lirih. “Aku tak bilang dia
salah. Dia sama sekali tidak salah. Semua itu berawal dari aku yang tidak
terbuka.” Tegasnya.
“Jadi kau memaafkannya?” Tanyaku. “Tentu saja.
Bahkan sampai-sampai dia tidak tahu bahwa aku sangat berharap dia menyapaku dan
berbicara lagi kepadaku.” Tegasnya sekali lagi. Kami berbicara seolah tak
mengenal diriku sendiri. Aku berjalan ke
sisinya. Dia masih saja tidak memalingkan wajahnya dari jendela. Ada kekuatan
mendorongku untuk memegang pundaknya.
“Maafkan aku,” ujarku. Dia menghadapkan tubuhnya
padaku. “Aku juga.” Katanya yang langsung memeluk erat tubuhku. Aku merasakan
air matanya menetes di pundakku. Aku juga tak lagi mampu membendung air mata.
Baru kali ini aku merasakan menangis untuk seorang teman.
***
Sudah setengah jam aku menunggu di
depan terminal kepulangan Bandara Soekarno Hatta. Pagi-pagi sekali tadi aku
berangkat dari Bandara Sultan Taha provinsi Jambi. Sekitar lima menit kemudian,
kulihat banyak para penumpang yang keluar dari terminal kepulangan. Mataku
gesit mencari-cari seseorang yang merupakan tujuan kehadiranku di sini.
Seorang lelaki berkulit sawo matang
dan postur tubuh yang tegap melambaikan tangannya ke arahku. Benar-benar tidak
berubah, pikirku. Hanya postur tubuh yang tampak lebih gagah saja yang mungkin
dia latih selama berada di sana.
“ Hahaha,” dia memeluk erat tubuhku
dengan tawanya yang khas. “Bagaimana kau tahu aku akan pulang hari ini?” Tanyanya
yang masih tak percaya dengan kehadiranku.
“Kau ini, bisa-bisanya kau hanya mengabari ayah dan
ibu saja.” Aku meninju lengannya. “Jadi, ayah dan ibu memberi tahu mu?” Dia
memegang bahuku.
“Sudahlah, itu tidak penting. Ayo! Aku tak sabar
menunjukkanmu pada ayah dan ibu.” Ajakku sambil merangkul pundaknya.
Pesawat kami terbang siang itu juga
menuju Jambi. Sekitar menjelang maghrib, kami sampai di rumah. Lima tahun tak
berjumpa, malam itu menjadi malam yang haru biru bagi keluarga kami. Tapi tak
ada yang dapat menandingi kebahagiaanku hari ini. Aku bertemu lagi dengan
Beteguh, saudaraku dari tanah rimba.
Wow... Memang persahabatan itu tidak dapat digantikan dengan apapun :D
BalasHapusSaluut buat cerpennya ... kereen :D
Waduh, sial ! nih cerpen bisa-bia ngalahin karya gua kayaknya.
BalasHapushahaha
*good job and keep writing, IC WRITER*