Senin, 05 Mei 2014

CERPEN - SAUDARA DARI TANAH RIMBA

Assalamu'alaikum ya ahlul jannah!
ada cerpen seru karya si Sobat Misterius. Selamat membaca !



 SAUDARA DARI TANAH RIMBA
Oleh  : Riarfhiatma
Aku menyeruput cappucinno yang masih tersisa yang aku pesan tadi. Aku melirik arlojiku. Pukul 09.30 WIB. Aku melihat ke sekeliling sisi café ini. Mataku tertuju pada dua remaja laki-laki yang tengah mengobrol asyik. Tawa mereka begitu renyah. Aku memandang ke arah luar café. Bayanganku jatuh pada kejadian dua belas tahun silam.
Mobil kami melesat cepat menusuri jalan menuju Merangin. Sudah lima jam aku merasakan perjalanan membosankan ini. Karena sebenarnya, aku juga tidak tahu ayah mau membawaku kemana. “Ayah, sebenarnya untuk apa kita ke sana? Kita kan tidak punya kerabat di sana?” Tanyaku.
            Ayah hanya tersenyum mendengar pertanyaanku dan tidak menjawabnya sama sekali. Ayah bekerja sebagai wirausahawan. Di samping itu, ternyata ayah mengikutsertakan diri menjadi aktivis di sebuah lembaga peduli hutan dan suku anak dalam provinsi Jambi. Aku tidak mengerti, apa hal yang mendorong ayah untuk bergabung di dalamnya. Dua atau tiga bulan sekali, ayah meluangkan waktunya beberapa hari untuk mengabdi menjadi guru bagi suku anak dalam.
            Ayah membangunkanku yang tertidur pulas dengan tubuh berselonjor di jok kedua. “Zaki, bangun nak. Ada yang mau duduk di sini juga. Ayo.”
            Kulihat ada seorang anak lelaki yang terlihat sebaya denganku berdiri di samping ayah. Dia tidak memakai baju dan celana layaknya anak-anak biasa. Tubuhnya dekil. Ada perasaan jijik saaat bertemu dengannya.
            Aku menggeser dudukku sebisa mungkin jauh darinya. Kuletakkan tasku di antara kami. “Zaki, tidak sopan seperti itu. Ayo kenalan dengan dia,” saran ayah.
            “Akeh Beteguh. Mika?” tanyanya dengan bahasa yang sama sekali tidak ku mengerti. “Beteguh, mika turut apo sekato bahaso Indonesia, au?” Ayah menasihatinya. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ayah bilang, itu bahasa suku anak dalam. 
            “Nama, saya, Beteguh. Kamu?” Kali ini dia berbicara bahasa Indonesia, walaupun masih terbata-bata. “Zaki,” ujarku singkat dengan nada suara yang ketus. “Dia sebenarnya siapa, yah? Kenapa dia ikut dengan kita?” tanyaku. “Zaki, Beteguh baru saja kehilangan orangtuanya. Jadi ayah, berencana mengangkatnya menjadi saudara kam. Kamu kan jadi tidak sendirian lagi.” jelas ayah.
            Aku tidak banyak berkomentar setelah mendengar pernyataan itu. Ayah bilang, dia adalah salah satu anak didik ayah di sekolah rimba. Beteguh termasuk anak yang yang cepat menguasai pengajaran yang diberikan. Ibunya sudah meninggal sejak Beteguh kecil, dan ayahnya juga menghilang setelah berpamitan untuk pergi berburu. Terdengar kabar dari kepala suku yang menduga bahwa ayahnya di makan harimau saat berburu. Mendengar berita itu, ayah berizin kepada kepala suku untuk merawat Beteguh yang kala itu sebatang kara dan membawanya ke kota untuk di sekolahkan. Kepercayaan yang di peroleh organisasi yang diikuti ayahku dari suku anak dalam, benar-benar suatu kehormatan besar. Karena mereka bukanlah orang yang mampu untuk didekati.
            Hari demi hari, tahun berganti tahun, aku benar-benar merasakan yang namanya mempunyai saudara. Walaupun bukan saudara sedarah, tapi tetap terasa perbedaannya dengan saat aku masih menjadi anak tunggal. Awalnya, aku dan Beteguh tidak terlalu akur disebabkan keegoisanku. Aku tidak pernah mau bermain dengannya, dirumah maupun di sekolah. Makan pun aku mencoba menghindar untuk satu meja dengannya. Pernah suatu hari, aku bermasalah dengannya di meja makan.
            Saat itu, ayah dan ibu sedang ke luar kota. Hanya ada aku, Beteguh, dan pembantu kami di rumah. Siang itu, aku berencana makan sendiri. Tiba-tiba Beteguh datang untuk makan bersama dan duduk di hadapanku. Selera makanku hilang. Aku tidak jadi mengambil ayam yang ada di hadapanku. “Kalu mikai golih makon hayom, miaki bisa makon ikan.” Ujarnya sambil menunjuk ke piring yang menyajikan ikan. Karena seringnya dia berbahasa kubu, aku sedikit mengerti dengan apa yang disampaikannya. Aku menggelengkan kepalaku dengan memasang muka masam. “Kalu mikai golih makon hayom, akeh juga hopi makon hayom,” kata Beteguh kepadaku yang menandakan Beteguh mengikuti selera makanku. Aku tertegun mendengar ucapannya barusan. Betapa egoisnya diriku, pikirku. Sejak saat itu, aku mau berteman dengannya. Hari-hari berikutnya, aku mulai mau pulang dan pergi sekolah bersamanya.
            Tidak terasa sudah lima tahun kami bersama. Aku telah melewati masa-masa SD dan SMP bersama Beteguh. Hingga kami masuk di SMA yang masih sama pula. Ya. masa SMA adalah masa paling indah dari semua masa yang telah kulalui di jenjang pendidikan. Masa dimana aku mulai merasakan tanda-tanda pubertas.
            Aku dan Beteguh, tidak duduk di kelas yang sama. Tapi kedekatan kami masih terpampang jelas di mata teman-teman di sekolah. Teman-teman hanya tahu bahwa kami ini adalah saudara angkat. Tidak ada yang tahu perihal asal-usul Beteguh. Aku juga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Menurutku itu sama sekali tidak penting.
            Hingga suatu hari

, saat pulang sekolah, aku menyampaikan sesuatu pada Beteguh. “Beteguh, kau tahu Ratna, kan?” Tanyaku seraya melihat-lihat ke belakang,memastikan tidak ada yang mendengar kami. “Ya, aku tahu,” ujar Beteguh dengan bahasa Indonesianya yang sudah lancar, walaupun masih sedikit menggunakan logat bahasa kubu. Aku melihat-lihat ke kanan dan ke kiri lagi, “aku ingin kau mengenalkanku padanya. Sudah beberapa bulan ini aku memperhatikannya. Tapi aku malu menyampaikannya padamu. Kau mau, kan?” Pintaku.
            Beteguh diam, seperti memikirkan sesuatu. “Bagaimana? Tolonglah,” desakku yang membuatnya mengerutkan dahinya. Beteguh menatap ke arahku dan mengangguk mantap seraya berkata, “ ya.”
            Usai mendapatkan kepastian dari Beteguh tadi, kami langsung berjalan menuju parkiran kendaraan. Aku dan Beteguh pulang dengan sepeda motor kami masing-masing.
            Esoknya, saat pulang sekolah Beteguh mengajak beberapa temannya, termasuk Ratna untuk menyelesaikan tugas kelompok di rumah. Aku juga ikut pulang bersama rombongan mereka. Ratna sempat menatapku saat di parkiran lalu berpaling dan langsung duduk di jok motor di belakang Beteguh.
            Saat sampai di rumah, aku juga ikut duduk bersama mereka di ruang tamu. Beteguh langsung ke dapur menyiapkan minum untuk tamunya. Karena beberapa dari mereka merupakan teman sepermainanku, aku tidak merasa canggung ikut bersenda gurau dengan mereka. Saat aku bebicara kepada yang lain, sesekali aku melirik ke arah Ratna yang sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya. Sampai saat Ratna membuka pembicaraan di antara kami. “Di sini nyaman ya.” Ujarnya dengan nada suara yang lembut. “Ah, iya. Di sini memang nyaman. Kalau mau main lain kali, ya datang aja.” Ucapku yang langsung sumringah mendengar pernyataannya tadi. “Oh, ya. Nama kamu Zaki, kan?” Ratna memalingkan wajahnya ke arahku. Degg. Aku tersipu malu mendengar pertanyaannya tadi. Wajahku langsung memerah. “Oh, iya. Aku Zaki. Kau Ratna, yang sering dibicarakan Beteguh itu, kan?” tanyaku asal-asalan. Kali ini wajah Ratna yang memerah. Dia tertunduk dan tersenyum simpul.
            Pertemananku dengan Ratna mulai dekat. Di sekolah aku dan Ratna juga sering saling menyapa. Terkadang jika kami bertemu di kantin, kami biasanya duduk dengan satu meja yang sama. Kadang kalanya, Beteguh dan teman-teman yang lain juga ikut bergabung.
            Pagi menjelang siang itu, saat jam istirahat, aku duduk sendirian di kantin. Tiba-tiba Ratna datang dan langsung mengambil posisi yang sangat dekat denganku. “Aku mau bilang sesuatu, boleh?” tanyanya dengan volume suara yang pelan sekali. Aku terkesiap, “Ya. Mau bilang apa? Bilang aja,” ujarku kaku. “Tapi, lebih baik pulang sekolah aja, di tempat parkir. Oke?” Ratna langsung pergi meninggalkanku sembari melambaikan tangannya.
            Saat pulang sekolah, aku menunggu Ratna di tempat parkir. Beteguh sempat mengajakku untuk pulang bersama, tapi aku menolak dengan alasan akan pergi mengerjakan tugas kelompok. Beteguh tidak merasa curiga dan langsung menancap gas pulang ke rumah.
            Hampir sepuluh menit aku berdiri di samping motorku saat Ratna datang menghampiriku. “Maaf ya, Zak. Aku sengaja menunggu sepi dulu.” Ujarnya dengan napas yang tersenggal-senggal. “Iya. Tak apa. Kamu mau bilang apa?” Tanyaku dengan perasaan tidak karuan. “Sebenarnya aku sudah lama memeperhatikan Beteguh,” lirihnya. Aku seperti tersambar petir mendengar pernyataan itu. Tapi sebisa mungkin aku menutupi keabnormalan hatiku yang terpancar di wajahku. “Aku sebenarnya juga sudah tertarik dengannya sejak awal semester dua. Tapi aku merasa ini bukan hanya perasaanku saja. Aku yakin dia juga menyukaiku,” Ratna melanjutkan kata-katanya dengan sesekali menyunggingkan senyuman.
            “Jadi menurut kamu, kalian saling suka?” Tanyaku lirih. Ratna hanya menganggukkan kepalanya. Hampir setengah jam kami membahas tentang hal itu. Ratna memintaku untuk mencari tahu apa benar Beteguh juga menyukainya. Setelah perbincangan itu selesai, sesegara mungkin kupacu sepeda motorku pulang ke rumah. Perasaan kebencian bergemuruh di hatiku. Sesampai di rumah aku langsung kepada tujuan utamaku. Beteguh.
            Kulihat Beteguh sedang menyiram tanaman di halaman belakang. Langsung kuhampiri dirinya, “Hei!” Kepalan tangan ini mendarat di wajahnya. Beteguh jatuh seketika. Dia mencoba bangkit tetapi aku langsung mendorong tubuhnya lagi hingga tersungkur. “Kupikir kita saudara!” Pekikku.
“Ada apa? Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” Beteguh kebingungan dengan tangan yang masih memegangi pipi kanannya.
“Kau menyukai Ratna, kan?” Bentakku. “ Zaki, apa yang kau bicarakan? Kau yang menyukai Ratna, apa yang membuatmu menanyakan itu?” Tanya Beteguh.
“Ya. Ratna menyukaimu. Bukan aku. Dan Ratna bilang, kau menyukainya juga kan?!” Aku mulai menunjuk-nunjuk ke arahnya.
            Beteguh diam. Matanya memandang ke sisi lain, “ya, aku juga menyukainya. Tapi kau juga menyukainya, dan aku tidak ingin merusak hubungan persaudaraan kita.” Beteguh memalingkan tatapannya ke mataku. “Tapi sama saja kau telah membohongiku. Kau memang pembohong!” Pekikku dengan jari telunjuk yang masih lihai mengarah ke wajahnya. Beteguh membelalakkan matanya.
“Jadi kau ingin apa?! Kau ingin aku juga membalas hal yang sama pada Ratna?! Kalau begitu maumu, aku akan belajar untuk membalas perasaanku terhadap Ratna.” Tegasnya seraya mendekatkan wajahnya ke wajahku.
            “Kau pikir Ratna akan menyukaimu lagi setelah tahu bahwa kau adalah anak kubu yang dipungut ayahku?!” Pekikku dengan nada menyindir. “Jangan bawa-bawa masa lalu, kawan. Mulai sekarang kau boleh menganggapku tidak ada. Begitupun aku. Mungkin begitu lebih baik.” Tuturnya lirih seraya menghilang dari pandanganku.
            Setelah kejadian itu, aku dan Beteguh tak pernah lagi bertegur sapa. Di rumah, di sekolah, di mana pun kami berada, kami seakan saling tidak menganggap keberadaan satu sama lain.
            Ternyata ayah dan ibu memperhatikan kerenggangan antara kami. Malam hari, saat aku sedang bermain game komputer di kamar, ayah masuk dan menghampiriku. Aku langsung menghentikan permainanku. Ayah berdiri menghadap ke luar jendela. “Apa yang terjadi antara kamu dan Beteguh, Zak?” Tanya ayah yang masih setia dengan posisinya. Aku terkejut mendengar pertanyaan ayah barusan.
“Ayah tahu dari mana?” Aku bertanya dengan nada suara gemetar. “Ayah dan anak punya kontak batin, Zaki,” tuturnya sembari membalikkan badannya dan menatapku.
            Itulah tatapan ayah. Tatapan yang tak mampu kubalas dengan kebohongan. Begitu teduh dan bijaksana. Aku menghela nafas panjang dan mulai menceritakan peristiwa yang terjadi dua minggu lalu. Tak ada yang aku tutup-tutupi kepada ayah. Ayah dengan seksama mendengarkan ceritaku.
            “Jadi masalah cinta?” Tanya ayah. Aku mengangguk pelan. “Minta maaflah pada Beteguh,” ujar ayah.
“Tapi yah…”
            “Dia saudaramu Zak. Walaupun dia bukan darah daging ayah, tapi ayah yang memutuskannya untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Kalian sudah enam tahun bersama dan apa kau mau berpisah hanya karena seorang gadis yang belum jelas akan menjadi masa depan kalian atau tidak?” Ayah mengakhiri pembicaraan dan keluar dari kamar.
            Aku tidak mematikan komputer dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Mataku tertuju pada langit-langit kamar. Aku memikirkan ulang apa yang dikatakan ayah barusan.
            Esoknya saat di meja makan, saat kami larut dalam kesenggangan di meja makan, ibu membuka pembicaraan. “Setelah lulus nanti, kamu mau melanjut ke mana Zak?” Tanya ibu seraya mengolesi rotinya dengan selai kacang. “Hmm, belum tahu bu, tapi yang pastinya Zaki harus kuliah,” ujarku.
“Kamu tidak mau mencoba beasiswa ke luar negeri seperti Beteguh? Beteguh rencananya mau ke Jerman katanya.” Ibu memalingkan wajahnya ke arah Beteguh yang sibuk dengan roti isinya. Beteguh mengangguk ragu. “Zaki masih cinta Indonesia bu.” Kataku ketus yang langsung beranjak meninggalkan meja makan dan tidak menghabiskan rotiku.
            Aku mengeluarkan motorku dari garasi. Langsung kutancap gasku menuju sekolah. Lima belas menit kemudian aku telah berdiri di parkiran sekolah. Aku berjalan menuju kelas saat tangan seseorang menahan ranselku dari belakang. “Ratna?” Aku seolah menghindarinya dan mencoba melanjutkan jalanku. “Zaki, dengarkan aku!” bentakknya yang membuat langkahku terhenti. Ratna berjalan cepat dan berdiri tepat di hadapanku.
“Zaki, aku ingin kau jujur padaku.” Katanya mantap. “Kau menyukaiku?” Tanyanya nafas tersenggal-senggal. Aku terkejut, tak menyangka dia bernyali menanyakan itu padaku.
“Aku tanya, apa benar kau menyukaiku?!” Kali ini suaranya meninggi dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tidak sanggup menatapnya. “Kenapa kau tidak menjawabku? Kau pikir aku sedang berbicara dengan siapa? Hah?!” Air matanya mengalir deras.
“Ya, aku menyukaimu. Aku menyukaimu saat sebelum kau menyukai Beteguh.” Ujarku lirih. “Apa aku penyebab rusaknya persaudaraan kalian?” Suaranya memelan.
            “Aku penyebabnya.” Kata seseorang di belakangku. Aku dan Ratna sontak menoleh ke arah datangnya suara. Beteguh. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia ada di sana. “Aku yang tidak mau jujur sejak awal. Aku yang selalu menutup diri dan membiarkan kau dan Zaki jatuh dalam perasaan yang saling mengejar. Kalau saja aku mengatakan sejak awal bahwa aku menyukaimu, kepadamu dan Zaki, mungkin tidak akan serumit ini. Maaf,” ujarnya yang lalu pergi meninggalkan kami. Aku menatap wajah Ratna yang tertunduk dengan isak tangis yang tak terbendung lagi. Aku menyatakan permohonan maafku padanya yang sama sekali tak dihiraukan lalu beranjak meninggalkannya.
            “Ini kedua kalinya, dia mengalah untuk hal yang besar. Betapa egoisnya aku. Aku bahkan belum pernah berkorban untuknya selama kami bersama.” Batinku.
            Sudah satu setengah tahun sejak kejadian di parkiran itu, hubunganku dengannya semakin renggang. Sebenarnya Beteguh menganggap santai, tapi aku tak bisa menyembunyikan rasa maluku padanya. Aku selalu berlaku segan saat bersamanya. Hingga sampai suatu hari Beteguh mendapat kabar gembira dari pihak sekolah. Beteguh lulus untuk tes wawancara yang dilangsungkan dua pekan lalu. Itu berarti dia berhak menerima beasiswanya ke Jerman. Impianya sejak lama.
            Ayah dan ibu mendengar kabar itu, begitu bahagia. Termasuk aku. Tapi aku tetap tak menampakkan reaksi apapun padanya. Malamnya usai pulang dari acara perpisahan sekolah, Beteguh masuk ke kamarku yang tidak terkunci. Aku langsung meng-off-kan komputerku. Dengan santainya, Beteguh menghempaskan bokongnya di kasurku. “Sudah lama ya, aku tidak bermain di kamar ini,” ujarnya seraya melihat ke langit-langit kamar. “Sebentar lagi, aku bahkan harus terbiasa dengan rumah baru untuk beberapa tahun kedepan. Aku juga harus berpisah sementara dengan saudaraku.” Beteguh masih menatap langit-langit kamar.
“Kau ini kenapa?” Tanyaku dengan suara pelan. “Aku? Kenapa? Aku juga tidak tau apa yang terjadi padaku. Aku baru saja terkena musibah. Aku kehilangan gadis yang aku cintai. Tapi itu tak berarti apapun karena yang lebih parahnya, aku kehilangan kepercayaan saudaraku sendiri.” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Aku yang tidak berani membalas tatapannya langsung mengalihkan pandangan menuju jendela kamar yang masih terbuka.
            Beteguh berjalan menuju kaca jendela dan berdiri membelakangiku. Dia menarik nafas dalam-dalam dengan mata tertutup lalu menghembuskannya perlahan. “Beteguh,” aku memberanikan diri melihat ke arahnya. “Ya,” Dia sama sekali tidak menoleh.
“Kalau saudaramu itu menyesal dengan kesalahannya, apa kau mau menerima permohonan maafnya?” Tanyaku lirih. “Aku tak bilang dia salah. Dia sama sekali tidak salah. Semua itu berawal dari aku yang tidak terbuka.” Tegasnya.
“Jadi kau memaafkannya?” Tanyaku. “Tentu saja. Bahkan sampai-sampai dia tidak tahu bahwa aku sangat berharap dia menyapaku dan berbicara lagi kepadaku.” Tegasnya sekali lagi. Kami berbicara seolah tak mengenal diriku sendiri.  Aku berjalan ke sisinya. Dia masih saja tidak memalingkan wajahnya dari jendela. Ada kekuatan mendorongku untuk memegang pundaknya.
“Maafkan aku,” ujarku. Dia menghadapkan tubuhnya padaku. “Aku juga.” Katanya yang langsung memeluk erat tubuhku. Aku merasakan air matanya menetes di pundakku. Aku juga tak lagi mampu membendung air mata. Baru kali ini aku merasakan menangis untuk seorang teman.
***
            Sudah setengah jam aku menunggu di depan terminal kepulangan Bandara Soekarno Hatta. Pagi-pagi sekali tadi aku berangkat dari Bandara Sultan Taha provinsi Jambi. Sekitar lima menit kemudian, kulihat banyak para penumpang yang keluar dari terminal kepulangan. Mataku gesit mencari-cari seseorang yang merupakan tujuan kehadiranku di sini.
            Seorang lelaki berkulit sawo matang dan postur tubuh yang tegap melambaikan tangannya ke arahku. Benar-benar tidak berubah, pikirku. Hanya postur tubuh yang tampak lebih gagah saja yang mungkin dia latih selama berada di sana.
            “ Hahaha,” dia memeluk erat tubuhku dengan tawanya yang khas. “Bagaimana kau tahu aku akan pulang hari ini?” Tanyanya yang masih tak percaya dengan kehadiranku.
“Kau ini, bisa-bisanya kau hanya mengabari ayah dan ibu saja.” Aku meninju lengannya. “Jadi, ayah dan ibu memberi tahu mu?” Dia memegang bahuku.
“Sudahlah, itu tidak penting. Ayo! Aku tak sabar menunjukkanmu pada ayah dan ibu.” Ajakku sambil merangkul pundaknya.
            Pesawat kami terbang siang itu juga menuju Jambi. Sekitar menjelang maghrib, kami sampai di rumah. Lima tahun tak berjumpa, malam itu menjadi malam yang haru biru bagi keluarga kami. Tapi tak ada yang dapat menandingi kebahagiaanku hari ini. Aku bertemu lagi dengan Beteguh, saudaraku dari  tanah rimba.

2 komentar:

  1. Wow... Memang persahabatan itu tidak dapat digantikan dengan apapun :D
    Saluut buat cerpennya ... kereen :D

    BalasHapus
  2. Waduh, sial ! nih cerpen bisa-bia ngalahin karya gua kayaknya.
    hahaha
    *good job and keep writing, IC WRITER*

    BalasHapus