Minggu, 31 Agustus 2014

PUSING TUJUH KELILING

Pusing Tujuh Keliling


“Apa ya?”
      Dengan wajah penuh harap bin cengo Fiska menopang dagunya menatap langit-langit. Pena warna biru bertengger manis di telinga kanannya. Serta buku kosong yang terbuka berada tepat di atas meja belajarnya. Bosan menopang dagu, Fiska berganti aksi menjadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal—atau bisa jadi gatal.
      “Aaarrgh! Kesel gila! Jelas-jelas gue nggak bisa nge-sastra juga. Jangan paksa gue gitu, dong!” suaranya yang cempreng plus serak-serak tsunami membahana disetiap sudut kamarnya yang luasnya bak aula sekolahnya itu.
***
      Kelas IXA yang sepi senyap pagi itu tiba-tiba meledak dengan fantastisnya, disusul dengan orkesta tepuk tangan juga siulan yang yahud.
      “Bener nih, Bu, kita bakal nerbitin buku?” tanya seorang anak laki-laki berkacamata tampang cool turun dari meja setelah puas locat-loncat dari satu meja ke meja yang lainnya. Biasa, norak nggak ketulungan.
      “Iya lah, masa Ibu bohong?” jawab Bu Rika, guru Bahasa Indonesia yang mendapat predikat sebagai guru paling gaul satu sekolahan itu. “Apalagi buku antologi kelas IXA sendiri, kelas IXB juga sendiri. Coz satu kelas kan, ada 24 orang. Yah..terbilang banyak untuk membuat satu buku antologi cerpen. Cerpen bertema bebas sesuai pemikiran kalian. Nanti kita terbitin, trus dijual.Panmayan tuh, buat nge-rental PS bareng-bareng. Yo’i kagak?”
      “Yo’i bubro!” serempak semua mengacungkan ibu jarinya ke udara.
      Kecuali Fiska.
      Perempuan berambut panjang yang dikuncir kuda asal-asalan itu menidurkan kepalanya di atas mejanya, tak lupa bibirnya yang maju hampir sepuluh senti. Cemberut. Bagaimana tidak, ia tak jago dalam urusan beginian. Cerpen, bo! Menulis esai satu paragraf saja sudah muncul larva panasbak gunung mau meletus dari kepalanya, apalagi cerpen! Alamak! Kiamat melanda!
      “Bu, cerpennya harus, gitu? Maksudnya, apa nggak anak-anak yang udah biasa nulis aja, Bu?”
      Aha! Dengan cepat Fiska mengangkat kepalanya dan celingak-celinguk mencari arah asal suara. Rupanya si kalem, Dan, yang angkat bicara. Wah, ternyata ada yang merasa tak suka juga untuk membuat cerpen. Biasalah, cowok jarang banget punya minat hal ginian.
      “Wah, harus dong!” sang guru menjawab cepat.
      Glek!
      “Ini tuh ada materinya di buku, tauuk! Jadi, selain untuk kalian sendiri yang memetik rasa bangga karna sudah nerbitin buku, cerpennya juga ibu jadikan sebagai nilai. Don’t worry! Gaya bahasa bebas sesuai kalian. Yang penting nggak ada mengandung unsur yang jorok-jorok gimana gitchhuu! Oke?” jelas Bu Rika santai.
“So, nggak mesti sastra banget kagak napa kan, bu?” tanya si cantik Widi.
“Oh, no no no! Bebas gaya bahasa. Batas pengumpulan sampai Desember, ya? Jadi, kalian punya waktu sekitar 2 bulan lagi untuk mengabarkan kepada dunia, bahwa ‘Hooooiiii!!!! Kite-kite bisa nerbitin buku sendiri, coooooyy!!’. Sip? What’s your opinion?!”
“Mantap, bray!!” koor seluruh penghuni kelas IXA.
Seperti tadi, kecuali Fiska.
***
“Non! Non Fiska! Bangun, Non!”
Sayup-sayup terdengar suara lembut membangunkan Fiska. Fiska hafal betul siapa pemilik suara ini. Siapa lagi kalau bukan Bik Darsih, pembantunya yang sudah Fiska anggap sebagai ibu angkatnya, yang mengabdi kepada keluarga Fiska dari sebelum Fiska lahir hingga sekarang. Karna belum ada reaksi apa-apa dari Fiska. Bik Darsih pun mengguncang tubuhnya.
Sebenarnya Fiska masih malas, tetapi demi menghargai usaha Bik Darsih, Fiska pun membuka matanya meski berat. “Ada apa, Bik?”
“Sekarang jam berapa, Non? Apa Non lupa?”
Dengan malas Fiska melirik jam tangan warna ungunya. Mata setengah terbuka itu langsung berganti dengan mata melotot meminta keluar.“Les piano!”
“Kok, les piano?” Bik Darsih mengerutkan keningnya. “Bukan, Non.”
“Lho? Jam segini emang waktunya aku les piano, Bik.”
“Bukan, Non. Bukan.”
Fiska nge-follow Bik Darsih mengerutkan keningnya.“Iya, kok, Bik!”
“Aduuhh… Bukan, Non!”
Fiska menghela nafas panjang. Sepertinya sudah saatnya ia harus mengalah sekarang. “Oke, oke. Memangnya aku harus apa sekarang, Bik?”
“Apalagi kalau bukan ke acara Launching Antologi Cerpen kelas Non?”
***
Fiska mengayuh sepedanya dengan cepat. Tujuannya hanya satu, sekolah. Ia belum berganti pakaian tadi. Padahal Bik Darsih sudah menyuruhnya berganti pakaian dengan pakaian pilihan Mama sebelum Mama pergi kerja shubuh hari. Pikirannya masih bimbang dengan apa yang diucapkan Bik Darsih barusan. Launching Antologi Cerpen? Kapan ia selesai membuat cerpen? Bukankah ia masih memikirkan cerpen apa yang akan ia buat nanti hingga terlelap? Karena bimbang dengan apa yang barusan ia alami, Fiska pun memutuskan untuk memastikan sendiri dengan datang ke sekolahnya. Siapa tahu Bik Darsih hanya bergurau.
Setelah sampai di depan gerbang sekolahnya, Fiska tak bisa berkedip. Banyak orang, dari yang masih digendong kemana-mana sampai yang membawa tongkat untuk membantu berjalan, bolak-balik keluar-masuk sekolahnya dengan berpakaian rapi. Ekspresi sumringah menghiasi setiap wajah orang-orang itu. Apakah benar yang dikatakan Bik Darsih tadi?
Tak sengaja Fiska melihat Dan, teman cowoknya. “Dan!”
Dan menengok dan terkejut seketika. “Fiska? Lo make baju beginian?”
Spontan Fiska melihat apa yang ia kenakan. Jaket garis-garis warna ungu menutupi kaos putih bertuliskan ‘Woles’ dipadu dengan celana jeans hitam keabu-abuan dan sepatu kets warna putih corak ungu muda. Ditambah lagi dengan cap putih plus ungu muda yang melindungi rambutnya yang seperti biasa ia kuncir kuda asal-asalan.
“Hmm…” Fiska bergumam. Ia berganti melihat Dan yang mengenakan kemeja warna putih yang dibalut dengan jas hitam legam berkesan cool. Dan mengenakan pakaian yang biasa ayah Fiska pakai kalau mau berangkat kerja. Sangat formal.
“Iya.Emang masalah, ya?”
“Bujug! Fiska? Baju macam apaan tuh? Abis bangun tidur lo?” Muncullah Ganar dari balik tubuh Dan dengan pakaian serupa dengan Dan.
“Iya.Baru aja gue bangun tidur, terus langsung kesini.” Tanpa rasa berdosa plus tampang beloonnya Fiska mengangguk. Mengiyakan candaan Ganar. Sontak Dan serta Ganar melongo.
“Heran gue. Padahal cerpen lo top five dari dua puluh empat murid. Tapi ternyata? Ck..ck..ck..” Ganar menggeleng-geleng prihatin. Membuat Fiska makin merasa kalau dirinya beloo n beneran.
“Maksud lo berdua apaan, sih?”
“OMG!” Ganar menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya bergaya ala perempuan yang terkejut. “Masih nggak ngeh lo?”
“Lo sakit ya?” Dan meletakkan tangannya di atas kening Fiska. Memastikan keningnya tidak panas. “Kalo sakit di rumah aja.Nggak usah dipaksain.”
“Kagak, ah!” Fiska ikut-ikutan memeriksa keningnya.“Biasa aja gue.”
“Apa jangan-jangan lo ilang ingatan?!” Ganar mulai berkicau lagi.Dan yang sudah mulai eneg dengan segala candaan Ganar akhirnya menyikut tulang rusuknya hingga Ganar mengaduh kesakitan.
“Oke, gini aja. Lo inget nggak, sekarang hari apa?” Sifat bijaksana Dan pun muncul. Fiska pun mulai melunturkan tampang bingungnya perlahan.
“Minggu.”
“Iya, sih.Tapi hari ini kita semua ngapain?”
“Yaa… Free dari segala kesibukan lah.” Fiska mengangkat pundaknya.“Refreshing.”
“Iya, gue juga tahu. Maksud gue, acara kita hari ini? Apa?”
“Kalo gue, sih, biasanya molor.”
“Bukan, bukan. Gue nggak peduli sama kegiatan lo biasanya dihari Minggu. Maksud gue…”
“Buset, dah. Lo lupa kalo sekarang kita Launching Antologi Cerpen?” Tingkat kekesalan Ganar karna melihat Fiska yang tak kunjung mengerti sudah mencapai level akhir. Mendengar itu Fiska langsung membuka mulutnya selebar-lebarnya. Jadi, benar apa yang dikatakan Bik Darsih?
Tanpa diduga sebelumnya, Fiska malah tertawa. Tertawa sangat keras sampai-sampai ia memegangi perutnya yang sakit. Orang-orang sekitar memandang aneh ke arah mereka.Dan yang menyadari itu merasa sedikit malu dibuatnya.
“Makin yakin gue kalo lo ilang ingatan. Apa lo udah sakit jiwa?”Ganar menatap Fiska tak percaya.Ia hampir tak habis pikir. Fiska yang selalu mendapat predikat sebagai peringkat satu di kelasnya, bisa sampai seaneh ini dalam sekejap?
“Kak Fiska? Ini bener kak Fiska, kan?” Seorang gadis sekitar umur 13 tahun bersama dengan gadis seumurannya menghampiri ketiga remaja tersebut. Fiska segera menghentikan tawanya dan mengusap air mata yang keluar dari matanya saking lebaynya ia tertawa. “Iya, bener.Kenapa?”
“Kita boleh minta tanda tangan, Kakak? Tolong tanda tangan di sini, Kak!” Gadis itu menyodorkan sebuah buku yang sudah terbuka beserta pulpen miliknya. Fiska pun mulai bingung kembali.
“Maksudnya?”
“Kita mau minta tanda tangan Kakak langsung. Cerpen Kakak keren banget!”
Segera Fiska melihat apa yang ada dalam buku itu. ‘Pusing Tujuh Keliling, karya Fiska Andini’. Fiska Andini? Itu, kan, nama gue? pikirnya. “Ini cerpen bikinan gue?” tanyanya pada kedua gadis itu dan disambut dengan anggukan. “Atuh iya lah, Kak. Masa yang buat Kak Ganar?”
Ganar yang mendengar itu langsung melotot ke arah sumber suara. Yang mengeluarkan suara hanya mengangkat tangannya membentuk huruf ‘V’ tanda damai. Sementara Fiska masih berpikir, mencerna hal yang terjadi sekarang.
“Kak Fiska? Kak Fiska, kan, ya? Wooooiii semuanya! Yang mau minta tanda tangan ke Kak Fiska, ada di sini, nih!” Seorang laki-laki yang meneriaki hal itu membuat orang-orang menoleh dan serempak berbondong-bondong menghampiri Fiska.
Seketika di sekitar Fiska dipenuhi oleh murid kelas tujuh dan delapan yang berdesakkan ingin meminta tanda tangannya. Hal itu membuatya sulit untuk bernapas. Lama-kelamaan Fiska merasakan dirinya melayang, seperti tak menapaki bumi.
Brakk!
“Fiska!”
Ia pingsan.
***
“Non! Non Fiska! Bangun, Non!”
Fiska bangun dengan terkejut.Dilihatnya Bik Darsih yang membangunkannya. “Bik Darsih?”
“Iya, Non?”
Fiska memandangi sekelilingnya. Ini kamarnya. Di atas meja belajarnya terdapat buku yang terbuka tanpa tulisan. Dirabanya telinganya dan ia mendapatkan pena warna biru. Sebenarnya apa yang terjadi?
“Non? Sudah waktunya Non les piano. Sebentar lagi terlambat, lho.” Bik Darsih membuyarkan lamunannya yang sedari tadi terus memikirkan apa yang sebenarnya menimpanya.
“Les? Bukan Launching Antologi, Bik?”
“Hah? Bukan, Non. Non barusan tertidur setelah Non teriak-teriak tentang cerpen. Apa Non baik-baik saja?”
“Tidur? Aku ketiduran, Bik?” Bik Darsih hanya membalas dengan anggukan bingung.
Berarti tadi mimpi?, pikirnya. Cerpen gue bukan top five, dong? Trus,gue harus pusing-pusing bikin cerpen lagi, gitu? Arrggghh!!!!!!!!!!!

 The End (?)