Pusing Tujuh Keliling
“Apa
ya?”
Dengan
wajah penuh harap bin cengo Fiska menopang dagunya menatap langit-langit. Pena
warna biru bertengger manis di telinga kanannya. Serta buku kosong yang terbuka
berada tepat di atas meja belajarnya. Bosan menopang dagu, Fiska berganti aksi
menjadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal—atau bisa jadi gatal.
“Aaarrgh!
Kesel gila! Jelas-jelas gue nggak bisa nge-sastra juga. Jangan paksa gue gitu,
dong!” suaranya yang cempreng plus serak-serak tsunami membahana disetiap sudut
kamarnya yang luasnya bak aula sekolahnya itu.
***
Kelas
IXA yang sepi senyap pagi itu tiba-tiba meledak dengan fantastisnya, disusul
dengan orkesta tepuk tangan juga siulan yang yahud.
“Bener
nih, Bu, kita bakal nerbitin buku?” tanya seorang anak laki-laki berkacamata
tampang cool turun dari meja setelah
puas locat-loncat dari satu meja ke meja yang lainnya. Biasa, norak nggak
ketulungan.
“Iya
lah, masa Ibu bohong?” jawab Bu Rika, guru Bahasa Indonesia yang mendapat
predikat sebagai guru paling gaul
satu sekolahan itu. “Apalagi buku antologi kelas IXA sendiri, kelas IXB juga
sendiri. Coz satu kelas kan, ada 24
orang. Yah..terbilang banyak untuk membuat satu buku antologi cerpen. Cerpen
bertema bebas sesuai pemikiran kalian. Nanti kita terbitin, trus
dijual.Panmayan tuh, buat nge-rental PS bareng-bareng. Yo’i kagak?”
“Yo’i
bubro!” serempak semua mengacungkan ibu jarinya ke udara.
Kecuali
Fiska.
Perempuan
berambut panjang yang dikuncir kuda asal-asalan itu menidurkan kepalanya di
atas mejanya, tak lupa bibirnya yang maju hampir sepuluh senti. Cemberut.
Bagaimana tidak, ia tak jago dalam urusan beginian. Cerpen, bo! Menulis esai
satu paragraf saja sudah muncul larva panasbak gunung mau meletus dari
kepalanya, apalagi cerpen! Alamak! Kiamat melanda!
“Bu,
cerpennya harus, gitu? Maksudnya, apa nggak anak-anak yang udah biasa nulis
aja, Bu?”
Aha! Dengan cepat Fiska mengangkat
kepalanya dan celingak-celinguk mencari arah asal suara. Rupanya si kalem, Dan,
yang angkat bicara. Wah, ternyata ada yang merasa tak suka juga untuk membuat
cerpen. Biasalah, cowok jarang banget punya minat hal ginian.
“Wah,
harus dong!” sang guru menjawab cepat.
Glek!
“Ini
tuh ada materinya di buku, tauuk! Jadi, selain untuk kalian sendiri yang
memetik rasa bangga karna sudah nerbitin buku, cerpennya juga ibu jadikan
sebagai nilai. Don’t worry! Gaya
bahasa bebas sesuai kalian. Yang penting nggak ada mengandung unsur yang
jorok-jorok gimana gitchhuu! Oke?” jelas Bu Rika santai.
“So,
nggak mesti sastra banget kagak napa kan, bu?” tanya si cantik Widi.
“Oh, no no no! Bebas gaya bahasa. Batas
pengumpulan sampai Desember, ya? Jadi, kalian punya waktu sekitar 2 bulan lagi
untuk mengabarkan kepada dunia, bahwa ‘Hooooiiii!!!! Kite-kite bisa nerbitin
buku sendiri, coooooyy!!’. Sip? What’s
your opinion?!”
“Mantap,
bray!!” koor seluruh penghuni kelas IXA.
Seperti
tadi, kecuali Fiska.
***
“Non!
Non Fiska! Bangun, Non!”
Sayup-sayup
terdengar suara lembut membangunkan Fiska. Fiska hafal betul siapa pemilik
suara ini. Siapa lagi kalau bukan Bik Darsih, pembantunya yang sudah Fiska
anggap sebagai ibu angkatnya, yang mengabdi kepada keluarga Fiska dari sebelum
Fiska lahir hingga sekarang. Karna belum ada reaksi apa-apa dari Fiska. Bik
Darsih pun mengguncang tubuhnya.
Sebenarnya
Fiska masih malas, tetapi demi menghargai usaha Bik Darsih, Fiska pun membuka matanya
meski berat. “Ada apa, Bik?”
“Sekarang
jam berapa, Non? Apa Non lupa?”
Dengan
malas Fiska melirik jam tangan warna ungunya. Mata setengah terbuka itu
langsung berganti dengan mata melotot meminta keluar.“Les piano!”
“Kok,
les piano?” Bik Darsih mengerutkan keningnya. “Bukan, Non.”
“Lho?
Jam segini emang waktunya aku les piano, Bik.”
“Bukan,
Non. Bukan.”
Fiska
nge-follow Bik Darsih mengerutkan
keningnya.“Iya, kok, Bik!”
“Aduuhh…
Bukan, Non!”
Fiska
menghela nafas panjang. Sepertinya sudah saatnya ia harus mengalah sekarang.
“Oke, oke. Memangnya aku harus apa sekarang, Bik?”
“Apalagi
kalau bukan ke acara Launching Antologi Cerpen kelas Non?”
***
Fiska
mengayuh sepedanya dengan cepat. Tujuannya hanya satu, sekolah. Ia belum
berganti pakaian tadi. Padahal Bik Darsih sudah menyuruhnya berganti pakaian
dengan pakaian pilihan Mama sebelum Mama pergi kerja shubuh hari. Pikirannya
masih bimbang dengan apa yang diucapkan Bik Darsih barusan. Launching Antologi
Cerpen? Kapan ia selesai membuat cerpen? Bukankah ia masih memikirkan cerpen
apa yang akan ia buat nanti hingga terlelap? Karena bimbang dengan apa yang
barusan ia alami, Fiska pun memutuskan untuk memastikan sendiri dengan datang
ke sekolahnya. Siapa tahu Bik Darsih hanya bergurau.
Setelah
sampai di depan gerbang sekolahnya, Fiska tak bisa berkedip. Banyak orang, dari
yang masih digendong kemana-mana sampai yang membawa tongkat untuk membantu
berjalan, bolak-balik keluar-masuk sekolahnya dengan berpakaian rapi. Ekspresi
sumringah menghiasi setiap wajah orang-orang itu. Apakah benar yang dikatakan
Bik Darsih tadi?
Tak
sengaja Fiska melihat Dan, teman cowoknya. “Dan!”
Dan
menengok dan terkejut seketika. “Fiska? Lo make baju beginian?”
Spontan
Fiska melihat apa yang ia kenakan. Jaket garis-garis warna ungu menutupi kaos
putih bertuliskan ‘Woles’ dipadu dengan celana jeans hitam keabu-abuan dan
sepatu kets warna putih corak ungu muda. Ditambah lagi dengan cap putih plus
ungu muda yang melindungi rambutnya yang seperti biasa ia kuncir kuda
asal-asalan.
“Hmm…”
Fiska bergumam. Ia berganti melihat Dan yang mengenakan kemeja warna putih yang
dibalut dengan jas hitam legam berkesan cool.
Dan mengenakan pakaian yang biasa ayah Fiska pakai kalau mau berangkat kerja. Sangat
formal.
“Iya.Emang
masalah, ya?”
“Bujug!
Fiska? Baju macam apaan tuh? Abis bangun tidur lo?” Muncullah Ganar dari balik
tubuh Dan dengan pakaian serupa dengan Dan.
“Iya.Baru
aja gue bangun tidur, terus langsung kesini.” Tanpa rasa berdosa plus tampang
beloonnya Fiska mengangguk. Mengiyakan candaan Ganar. Sontak Dan serta Ganar
melongo.
“Heran
gue. Padahal cerpen lo top five dari dua puluh empat murid. Tapi ternyata? Ck..ck..ck..”
Ganar menggeleng-geleng prihatin. Membuat Fiska makin merasa kalau dirinya
beloo n beneran.
“Maksud
lo berdua apaan, sih?”
“OMG!”
Ganar menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya bergaya ala perempuan
yang terkejut. “Masih nggak ngeh lo?”
“Lo
sakit ya?” Dan meletakkan tangannya di atas kening Fiska. Memastikan keningnya
tidak panas. “Kalo sakit di rumah aja.Nggak usah dipaksain.”
“Kagak,
ah!” Fiska ikut-ikutan memeriksa keningnya.“Biasa aja gue.”
“Apa
jangan-jangan lo ilang ingatan?!” Ganar mulai berkicau lagi.Dan yang sudah
mulai eneg dengan segala candaan Ganar akhirnya menyikut tulang rusuknya hingga
Ganar mengaduh kesakitan.
“Oke,
gini aja. Lo inget nggak, sekarang hari apa?” Sifat bijaksana Dan pun muncul. Fiska
pun mulai melunturkan tampang bingungnya perlahan.
“Minggu.”
“Iya,
sih.Tapi hari ini kita semua ngapain?”
“Yaa…
Free dari segala kesibukan lah.”
Fiska mengangkat pundaknya.“Refreshing.”
“Iya,
gue juga tahu. Maksud gue, acara kita hari ini? Apa?”
“Kalo
gue, sih, biasanya molor.”
“Bukan,
bukan. Gue nggak peduli sama kegiatan lo biasanya dihari Minggu. Maksud gue…”
“Buset,
dah. Lo lupa kalo sekarang kita Launching Antologi Cerpen?” Tingkat kekesalan
Ganar karna melihat Fiska yang tak kunjung mengerti sudah mencapai level akhir.
Mendengar itu Fiska langsung membuka mulutnya selebar-lebarnya. Jadi, benar apa
yang dikatakan Bik Darsih?
Tanpa
diduga sebelumnya, Fiska malah tertawa. Tertawa sangat keras sampai-sampai ia
memegangi perutnya yang sakit. Orang-orang sekitar memandang aneh ke arah
mereka.Dan yang menyadari itu merasa sedikit malu dibuatnya.
“Makin
yakin gue kalo lo ilang ingatan. Apa lo udah sakit jiwa?”Ganar menatap Fiska
tak percaya.Ia hampir tak habis pikir. Fiska yang selalu mendapat predikat
sebagai peringkat satu di kelasnya, bisa sampai seaneh ini dalam sekejap?
“Kak
Fiska? Ini bener kak Fiska, kan?” Seorang gadis sekitar umur 13 tahun bersama
dengan gadis seumurannya menghampiri ketiga remaja tersebut. Fiska segera
menghentikan tawanya dan mengusap air mata yang keluar dari matanya saking
lebaynya ia tertawa. “Iya, bener.Kenapa?”
“Kita
boleh minta tanda tangan, Kakak? Tolong tanda tangan di sini, Kak!” Gadis itu
menyodorkan sebuah buku yang sudah terbuka beserta pulpen miliknya. Fiska pun
mulai bingung kembali.
“Maksudnya?”
“Kita
mau minta tanda tangan Kakak langsung. Cerpen Kakak keren banget!”
Segera
Fiska melihat apa yang ada dalam buku itu. ‘Pusing Tujuh Keliling, karya Fiska
Andini’. Fiska Andini? Itu, kan, nama gue? pikirnya. “Ini cerpen bikinan gue?”
tanyanya pada kedua gadis itu dan disambut dengan anggukan. “Atuh iya lah, Kak.
Masa yang buat Kak Ganar?”
Ganar
yang mendengar itu langsung melotot ke arah sumber suara. Yang mengeluarkan
suara hanya mengangkat tangannya membentuk huruf ‘V’ tanda damai. Sementara
Fiska masih berpikir, mencerna hal yang terjadi sekarang.
“Kak
Fiska? Kak Fiska, kan, ya? Wooooiii semuanya! Yang mau minta tanda tangan ke
Kak Fiska, ada di sini, nih!” Seorang laki-laki yang meneriaki hal itu membuat
orang-orang menoleh dan serempak berbondong-bondong menghampiri Fiska.
Seketika
di sekitar Fiska dipenuhi oleh murid kelas tujuh dan delapan yang berdesakkan
ingin meminta tanda tangannya. Hal itu membuatya sulit untuk bernapas. Lama-kelamaan
Fiska merasakan dirinya melayang, seperti tak menapaki bumi.
Brakk!
“Fiska!”
Ia
pingsan.
***
“Non!
Non Fiska! Bangun, Non!”
Fiska
bangun dengan terkejut.Dilihatnya Bik Darsih yang membangunkannya. “Bik
Darsih?”
“Iya,
Non?”
Fiska
memandangi sekelilingnya. Ini kamarnya. Di atas meja belajarnya terdapat buku
yang terbuka tanpa tulisan. Dirabanya telinganya dan ia mendapatkan pena warna
biru. Sebenarnya apa yang terjadi?
“Non?
Sudah waktunya Non les piano. Sebentar lagi terlambat, lho.” Bik Darsih
membuyarkan lamunannya yang sedari tadi terus memikirkan apa yang sebenarnya
menimpanya.
“Les?
Bukan Launching Antologi, Bik?”
“Hah?
Bukan, Non. Non barusan tertidur setelah Non teriak-teriak tentang cerpen. Apa
Non baik-baik saja?”
“Tidur?
Aku ketiduran, Bik?” Bik Darsih hanya membalas dengan anggukan bingung.
Berarti
tadi mimpi?, pikirnya. Cerpen gue bukan top
five, dong? Trus,gue harus pusing-pusing bikin cerpen lagi, gitu? Arrggghh!!!!!!!!!!!
The End (?)